M. Hatta
M. Hatta dibuang
oleh pemerintah kolonial Belanda, bersama Sutan Syahrir dan aktivis pejuang
kemerdekaan Indonesia lainnya. Saat dibuang, Hatta menulis sebuah buku berjudul Alam
Pikiran Yunani. Melalui studi terhadap para filsuf Yunani ini, Hatta
memperkenalkan pendahuluan paling awal bagi pemikiran Barat jauh sebelum
kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan. Buku Alam Pikiran
Yunani masih digunakan sebagai buku bacaan wajib bagi mahasiswa
filsafat di Indonesia.
Dalam Alam
Pikiran Yunani, Hatta menggali pula pandangan hidup asketisme yang
bersumber dari filsuf Barat. Penggalian Hatta menjadi tonggak baru pemikir
Indonesia, yang sebelumnya mengandalkan pencarian asketisme dari nabi,
pahlawan, dan pemikir dari Timur (Asia).
Buku Alam
Pikiran Yunani terdiri dari tiga bagian.Bagian pertama memaparkan
paham-paham filosofi sebelum Sokrates. Bagian kedua mengurai filosofi Yunani
Klasik, yaitu ajaran-ajaran Sokrates, Plato dan Aristoteles. Bagian ketiga
menjelaskan filosofi Yunani yang telah berkembang setelah Aristoteles.
Tan Malaka
Tan Malaka adalah
pengarang buku berjudul Madilog (Materialisme Dialektika
Logika). Meski Tan Malaka menola menyebut Madilog sebagai
sebuah falsafah, namun studi ini mengupas mengenai hukum berpikir dan
rasionalisme pemikiran filosofis Barat dengan dengan luas dan mendalam.
Madilog adalah
buku yang termasuk paling awal dan utuh mempertentangkan antara pemikiran
filosofis Barat dan Timur. Tan Malaka menawarkan suatu hukum berpikir
berdasarkan filosofis materialisme yang digagas oleh Karl Marx dan F. Engels.
Berbeda dengan
polemik kebudayaan 1930-an antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Soepomo, Ki Hajar
Dewantara, dan lainnya, Madilog juga menolak pemikiran Barat
yang dianggap sebagai paham idealisme berdasarkan keruhanian. Madilog lebih
maju dengan membedakan kontradiksi di dalam sejarah pemikiran Barat dan Timur.
M. Nasroen
Tidak banyak yang
mengetahui kapan dia lahir, akan tetapi puncak kariernya ialah ketika ia
menjabat sebagai Guru Besar Filsafat di Universitas Indonesia.
Karyanya yang membahas langsung Filsafat Indonesia ialah Falsafah
Indonesia (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1967), yang di
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dikategorikan sebagai ‘buku
langka’ dengan Nomor Panggil (Call Number) 181.16 NAS f.
Dalam karyanya
itu, Nasroen menegaskan keberbedaan Filsafat Indonesia dengan Filsafat Barat (Yunani-Kuno) dan Filsafat Timur, lalu mencapai satu kesimpulan bahwa Filsafat
Indonesia adalah suatu Filsafat khas yang ‘tidak Barat’ dan ‘tidak Timur’, yang
amat jelas termanifestasi dalam ajaran filosofis mupakat, pantun-pantun,
Pancasila, hukum adat, ketuhanan, gotong-royong, dan kekeluargaan (hal.14,
24, 25, 33, dan 38).
Bukunya yang hanya
setebal 90 halaman itu, sayangnya, hanya memberikan garis besar, penjelasan
umum yang tidak detail, dan masih membutuhkan penjabaran dan penjelasan yang
lebih luas. Kekurangannya itu kelak disempurnakan oleh generasi pengkaji
Filsafat Indonesia berikutnya.
Soenoto
Dia lahir pada
tahun 1929 dan merupakan pengkaji Filsafat Indonesia generasi kedua di era
1980-an. Pendidikan kefilsafatan pertamakali diperoleh dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (Sarjana dan Magister Ilmu Sosial dan
Politik), lalu Vrije
Universiteit, Amsterdam (Doktor Ilmu Sosial dan Politik). Jabatan
yang pernah dipegang ialah Dosen Tetap UGM (sejak 1958), Dekan Fakultas
Filsafat UGM (1967-1979), Peneliti Filsafat Pancasila di Dephankam, Ketua
Survei Pengamalan Pancasila di UGM dan Depdagri RI. Karya-karyanya yang
langsung berhubungan dengan kajian Filsafat Indonesia ialah: Selayang
Pandang tentang Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM,
1981), Pemikiran tentang Kefilsafatan Indonesia (Yogyakarta:
Yayasan Lembaga Studi Filsafat Pancasila & Andi Offset, 1983), dan Menuju
Filsafat Indonesia: Negara-Negara di Jawa sebelum Proklamasi Kemerdekaan (Yogyakarta:
Hanindita Offset, 1987).
Dalam ketiga
karyanya itu Sunoto menyempurnakan karya rintisan Nasroen dengan menelusuri
tradisi kefilsafatan Jawa dan memberikan penjabaran yang amat detail tentang
tradisi itu. Tentu saja, walaupun karya ini berhasil menyempurnakan Nasroen,
tetapi tetap saja masih memiliki kekurangan, sesuatu yang sangat diakui Sunoto
sendiri. R. Parmono, salah seorang dosen UGM pula, akan menyempurnakan
kekurangannya tadi.
R. Parmono
Lahir pada tahun
1952, R. Parmono menempuh jenjang pendidikan kefilsafatan di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (Sarjana
Filsafat), lalu setelah lulus pada 1976, dia meneruskan pendidikan di Program
Pasca-Sarjana Jurusan Filsafat Indonesia di
UGM pula. Setelah memperoleh gelar Magister, ia diterima sebagai Dosen Filsafat
di UGM, bahkan pernah menjadi Sekretaris Jurusan (Sekjur) pada Jurusan Filsafat
Indonesia yang dirintisnya bersama-sama dengan Sunoto. Selain mengajar di UGM,
dia juga salah seorang anggota Peneliti Filsafat Pancasila (1975-1979) di
Dephankam. Karya-karyanya yang membahas Filsafat Indonesia ialah: Menggali
Unsur-Unsur Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Andi Offset, 1985), Penelitian
Pustaka: Beberapa Cabang Filsafat di dalam Serat Wedhatama (1982/1983),
dan Penelitian Pustaka: Gambaran Manusia Seutuhnya di dalam Serat
Wedhatama (1983/1984).
Dalam Menggali
Unsur-Unsur Filsafat Indonesia, R. Parmono menyempurnakan kekurangan kajian
Sunoto yang mengkaji sebatas tradisi kefilsafatan Jawa dengan melebarkan
lingkup kajian pada tradisi filsafat Batak, Minang, dan Bugis. Dalam buku itu
pula Parmono mencoba mendefinisi-ulang istilah ‘Filsafat Indonesia’, sebagai ‘…pemikiran-pemikiran…yang
tersimpul di dalam adat istiadat serta kebudayaan daerah…’ (hal. iii).
Jadi, Filsafat Indonesia berarti segala filsafat yang ditemukan dalam adat dan
budaya etnik Indonesia. Definisi ini juga dianut oleh pelopor yang lain, Jakob
Sumardjo.
Jakob Soemardjo
Nama aslinya
Jakobus Soemardjo, dilahirkan di Klaten pada tahun 1939. Karier kefilsafatannya
dimulai ketika ia menulis kolom di harian KOMPAS, Pikiran Rakyat, Suara
Karya, Suara Pembaruan dan majalah Prisma, Basis, dan Horison sejak
tahun 1969. Sejak tahun 1962 mengajar di Fakultas Seni Rupa Desain di Institut
Teknologi Bandung (ITB) Bandung dalam mata kuliah Filsafat Seni, Antropologi
Seni, Sejarah Teater, daan Sosiologi Seni. Buku-bukunya yang khusus membahas Filsafat Indonesia ialah: Menjadi
Manusia (2001), Arkeologi Budaya Indonesia (Yogyakarta:
Penerbit Qalam, 2002, ISBN 979-9440-29-7), dan Mencari Sukma Indonesia:
Pendataan Kesadaran Keindonesiaan di tengah Letupan Disintegrasi Sosial
Kebangsaan (Yogyakarta: AK Group, 2003).
Dalam karyanya Arkeologi
Budaya Indonesia, Jakob membahas ‘Ringkasan Sejarah Kerohanian Indonesia’,
yang secara kronologis memaparkan sejarah Filsafat Indonesia dari ‘era
primordial’, ‘era kuno’, hingga ‘era madya’. Dengan berbekal hermeneutika yang
sangat dikuasainya, Jakob menelusuri medan-medan makna dari budaya material
(lukisan, alat musik, pakaian, tarian, dan lain-lain) hingga budaya intelektual
(cerita lisan, pantun, legenda rakyat, teks-teks kuno, dan lain-lain) yang
merupakan warisan filosofis agung masyarakat Indonesia. Dalam karyanya yang lain, Mencari Sukma
Indonesia, Jakob pun menyinggung ‘Filsafat Indonesia Modern’, yang secara
radikal amat berbeda ontologi, epistemologi, dan aksiologinya dari ‘Filsafat
Indonesia Lama’.
Definisinya
tentang Filsafat Indonesia sama dengan pendahulu-pendahulunya, yakni, ‘…pemikiran
primordial…’ atau ‘…pola pikir dasar yang menstruktur seluruh
bangunan karya budaya…’ dari suatu kelompok etnik di Indonesia. Maka,
jika disebut ‘Filsafat Etnik Jawa’, artinya ‘…filsafat [yang] terbaca
dalam cara masyarakat Jawa menyusun gamelannya, menyusun tari-tariannya,
menyusun mitos-mitosnya, cara memilih pemimpin-pemimpinnya, dari bentuk rumah
Jawanya, dari buku-buku sejarah dan sastra yang ditulisnya…’ (Mencari
Sukma Indonesia, hal. 116).
Selain itu dia
juga membuat buku yang berjudul "filsafat seni" yang
diterbitkan oleh ITB pada tahun 2000. semua tulisan di dalam buku ini berasal
dari kumpulan artikel-artikel yang setiap minggu mengisi ruang budaya pada harian
pikiran rakyat di bandung. pemikiran yang dituangkan pada buku ini
hanya sebagai pengantar untuk menuju filsafat seni, walaupun demikian buku
tersebut dapat menjadi sebuah referensi bagi pembacanya.
Analisis
Semua filsuf
pelopor tadi mencapai kata sepakat bahwa definisi Filsafat Indonesia adalah ‘segala
warisan pemikiran asli yang terdapat dalam adat-istiadat dan kebudayaan semua
kelompok etnik Indonesia.’ Jadi, semua produk filosofis sebelum
datangnya filsafat asing (Tiongkok, India,
Persia, Arab, Eropa)
ke Indonesia, dapat disebut sebagai Filsafat Indonesia. Mereka
menekankan ‘keaslian’ bagi Filsafat Indonesia. Padahal, ‘Filsafat asli
Indonesia’ hanya ada pada saat masyarakat Indonesia belum kedatangan penduduk asing.
Jika Filsafat Indonesia hanya berisi ini saja, maka sungguh betul miskinlah
tradisi filsafat kita.
Definisi yang
sangat berkekurangan itu kelak mendorong lahirnya definisi baru yang digagas
oleh Ferry Hidayat, seorang Dosen Bahasa Inggris di UPN ‘Veteran’ Jakarta,
bahwa agar Filsafat Indonesia tidak seperti katak dalam tempurung, kebal
terhadap pengaruh intelektual asing dan ‘suci’ dari unsur filosofis asing, maka scope Filsafat
Indonesia harus diperluas, bukan hanya mengandung segala warisan pemikiran asli
yang terdapat dalam adat-istiadat dan kebudayaan semua kelompok etnik
Indonesia, tetapi juga segala pemikiran Indonesia yang terpengaruh oleh
antar-koneksi filsafat-filsafat sejagat.
Memang benar,
sebagaimana sering ditunjukkan oleh penulis buku Filsafat Islam,
Persia, Tiongkok, Jepang, Inggris, Jerman, Amerika, dan lain-lain, bahwa para filsuf menamai kajian mereka dengan sebutan ‘Filsafat
Islam’, ‘Filsafat Tiongkok’, ‘Filsafat Jepang’, ‘Filsafat Jerman’, dst., di
samping untuk menegaskan sumbangan komunal dari komunitas tempat mereka berasal
terhadap tradisi filsafat sejagat, juga untuk menunjukkan kekhasan,
otentisitas, identitas, atau fitur distingtif dari filsafat yang mereka kaji
daripada tradisi filsafat lain. Tapi, para filsuf itu tidak berhenti sampai di
situ saja. Mereka kemudian juga mengakui, baik secara implisit maupun
eksplisit, bahwa tradisi filsafat sejagat juga turut memberi warna-warni dalam
struktur filsafat regional mereka.
Walau
bagaimanapun, semua pelopor tadi amat berjasa dalam merintis dan memopulerkan kajian
yang kelak disebut Filsafat Indonesia itu.
Dan untuk mengenang jasa-jasa mereka itulah artikel ini sengaja ditulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar