Kamis, 10 November 2016

Pelopor Kajian Filsaafat Indonesia

M. Hatta
M. Hatta dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda, bersama Sutan Syahrir dan aktivis pejuang kemerdekaan Indonesia lainnya. Saat dibuang, Hatta menulis sebuah buku berjudul Alam Pikiran Yunani. Melalui studi terhadap para filsuf Yunani ini, Hatta memperkenalkan pendahuluan paling awal bagi pemikiran Barat jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan. Buku Alam Pikiran Yunani masih digunakan sebagai buku bacaan wajib bagi mahasiswa filsafat di Indonesia.
Dalam Alam Pikiran Yunani, Hatta menggali pula pandangan hidup asketisme yang bersumber dari filsuf Barat. Penggalian Hatta menjadi tonggak baru pemikir Indonesia, yang sebelumnya mengandalkan pencarian asketisme dari nabi, pahlawan, dan pemikir dari Timur (Asia).
Buku Alam Pikiran Yunani terdiri dari tiga bagian.Bagian pertama memaparkan paham-paham filosofi sebelum Sokrates. Bagian kedua mengurai filosofi Yunani Klasik, yaitu ajaran-ajaran Sokrates, Plato dan Aristoteles. Bagian ketiga menjelaskan filosofi Yunani yang telah berkembang setelah Aristoteles.

Tan Malaka
Tan Malaka adalah pengarang buku berjudul Madilog (Materialisme Dialektika Logika). Meski Tan Malaka menola menyebut Madilog sebagai sebuah falsafah, namun studi ini mengupas mengenai hukum berpikir dan rasionalisme pemikiran filosofis Barat dengan dengan luas dan mendalam.
Madilog adalah buku yang termasuk paling awal dan utuh mempertentangkan antara pemikiran filosofis Barat dan Timur. Tan Malaka menawarkan suatu hukum berpikir berdasarkan filosofis materialisme yang digagas oleh Karl Marx dan F. Engels.
Berbeda dengan polemik kebudayaan 1930-an antara Sutan Takdir Alisjahbana dan Soepomo, Ki Hajar Dewantara, dan lainnya, Madilog juga menolak pemikiran Barat yang dianggap sebagai paham idealisme berdasarkan keruhanian. Madilog lebih maju dengan membedakan kontradiksi di dalam sejarah pemikiran Barat dan Timur.

M. Nasroen
Tidak banyak yang mengetahui kapan dia lahir, akan tetapi puncak kariernya ialah ketika ia menjabat sebagai Guru Besar Filsafat di Universitas Indonesia. Karyanya yang membahas langsung Filsafat Indonesia ialah Falsafah Indonesia (Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1967), yang di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dikategorikan sebagai ‘buku langka’ dengan Nomor Panggil (Call Number) 181.16 NAS f.
Dalam karyanya itu, Nasroen menegaskan keberbedaan Filsafat Indonesia dengan Filsafat Barat (Yunani-Kuno) dan Filsafat Timur, lalu mencapai satu kesimpulan bahwa Filsafat Indonesia adalah suatu Filsafat khas yang ‘tidak Barat’ dan ‘tidak Timur’, yang amat jelas termanifestasi dalam ajaran filosofis mupakat, pantun-pantun, Pancasila, hukum adat, ketuhanan, gotong-royong, dan kekeluargaan (hal.14, 24, 25, 33, dan 38).
Bukunya yang hanya setebal 90 halaman itu, sayangnya, hanya memberikan garis besar, penjelasan umum yang tidak detail, dan masih membutuhkan penjabaran dan penjelasan yang lebih luas. Kekurangannya itu kelak disempurnakan oleh generasi pengkaji Filsafat Indonesia berikutnya.

Soenoto
Dia lahir pada tahun 1929 dan merupakan pengkaji Filsafat Indonesia generasi kedua di era 1980-an. Pendidikan kefilsafatan pertamakali diperoleh dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (Sarjana dan Magister Ilmu Sosial dan Politik), lalu Vrije Universiteit, Amsterdam (Doktor Ilmu Sosial dan Politik). Jabatan yang pernah dipegang ialah Dosen Tetap UGM (sejak 1958), Dekan Fakultas Filsafat UGM (1967-1979), Peneliti Filsafat Pancasila di Dephankam, Ketua Survei Pengamalan Pancasila di UGM dan Depdagri RI. Karya-karyanya yang langsung berhubungan dengan kajian Filsafat Indonesia ialah: Selayang Pandang tentang Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM, 1981), Pemikiran tentang Kefilsafatan Indonesia (Yogyakarta: Yayasan Lembaga Studi Filsafat Pancasila & Andi Offset, 1983), dan Menuju Filsafat Indonesia: Negara-Negara di Jawa sebelum Proklamasi Kemerdekaan (Yogyakarta: Hanindita Offset, 1987).

Dalam ketiga karyanya itu Sunoto menyempurnakan karya rintisan Nasroen dengan menelusuri tradisi kefilsafatan Jawa dan memberikan penjabaran yang amat detail tentang tradisi itu. Tentu saja, walaupun karya ini berhasil menyempurnakan Nasroen, tetapi tetap saja masih memiliki kekurangan, sesuatu yang sangat diakui Sunoto sendiri. R. Parmono, salah seorang dosen UGM pula, akan menyempurnakan kekurangannya tadi.

R. Parmono
Lahir pada tahun 1952, R. Parmono menempuh jenjang pendidikan kefilsafatan di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (Sarjana Filsafat), lalu setelah lulus pada 1976, dia meneruskan pendidikan di Program Pasca-Sarjana Jurusan Filsafat Indonesia di UGM pula. Setelah memperoleh gelar Magister, ia diterima sebagai Dosen Filsafat di UGM, bahkan pernah menjadi Sekretaris Jurusan (Sekjur) pada Jurusan Filsafat Indonesia yang dirintisnya bersama-sama dengan Sunoto. Selain mengajar di UGM, dia juga salah seorang anggota Peneliti Filsafat Pancasila (1975-1979) di Dephankam. Karya-karyanya yang membahas Filsafat Indonesia ialah: Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia (Yogyakarta: Andi Offset, 1985), Penelitian Pustaka: Beberapa Cabang Filsafat di dalam Serat Wedhatama (1982/1983), dan Penelitian Pustaka: Gambaran Manusia Seutuhnya di dalam Serat Wedhatama (1983/1984).
Dalam Menggali Unsur-Unsur Filsafat Indonesia, R. Parmono menyempurnakan kekurangan kajian Sunoto yang mengkaji sebatas tradisi kefilsafatan Jawa dengan melebarkan lingkup kajian pada tradisi filsafat Batak, Minang, dan Bugis. Dalam buku itu pula Parmono mencoba mendefinisi-ulang istilah ‘Filsafat Indonesia’, sebagai ‘…pemikiran-pemikiran…yang tersimpul di dalam adat istiadat serta kebudayaan daerah…’ (hal. iii). Jadi, Filsafat Indonesia berarti segala filsafat yang ditemukan dalam adat dan budaya etnik Indonesia. Definisi ini juga dianut oleh pelopor yang lain, Jakob Sumardjo.

Jakob Soemardjo
Nama aslinya Jakobus Soemardjo, dilahirkan di Klaten pada tahun 1939. Karier kefilsafatannya dimulai ketika ia menulis kolom di harian KOMPAS, Pikiran Rakyat, Suara Karya, Suara Pembaruan dan majalah Prisma, Basis, dan Horison sejak tahun 1969. Sejak tahun 1962 mengajar di Fakultas Seni Rupa Desain di Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung dalam mata kuliah Filsafat Seni, Antropologi Seni, Sejarah Teater, daan Sosiologi Seni. Buku-bukunya yang khusus membahas Filsafat Indonesia ialah: Menjadi Manusia (2001), Arkeologi Budaya Indonesia (Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2002, ISBN 979-9440-29-7), dan Mencari Sukma Indonesia: Pendataan Kesadaran Keindonesiaan di tengah Letupan Disintegrasi Sosial Kebangsaan (Yogyakarta: AK Group, 2003).
Dalam karyanya Arkeologi Budaya Indonesia, Jakob membahas ‘Ringkasan Sejarah Kerohanian Indonesia’, yang secara kronologis memaparkan sejarah Filsafat Indonesia dari ‘era primordial’, ‘era kuno’, hingga ‘era madya’. Dengan berbekal hermeneutika yang sangat dikuasainya, Jakob menelusuri medan-medan makna dari budaya material (lukisan, alat musik, pakaian, tarian, dan lain-lain) hingga budaya intelektual (cerita lisan, pantun, legenda rakyat, teks-teks kuno, dan lain-lain) yang merupakan warisan filosofis agung masyarakat Indonesia. Dalam karyanya yang lain, Mencari Sukma Indonesia, Jakob pun menyinggung ‘Filsafat Indonesia Modern’, yang secara radikal amat berbeda ontologi, epistemologi, dan aksiologinya dari ‘Filsafat Indonesia Lama’.
Definisinya tentang Filsafat Indonesia sama dengan pendahulu-pendahulunya, yakni, ‘…pemikiran primordial…’ atau ‘…pola pikir dasar yang menstruktur seluruh bangunan karya budaya…’ dari suatu kelompok etnik di Indonesia. Maka, jika disebut ‘Filsafat Etnik Jawa’, artinya ‘…filsafat [yang] terbaca dalam cara masyarakat Jawa menyusun gamelannya, menyusun tari-tariannya, menyusun mitos-mitosnya, cara memilih pemimpin-pemimpinnya, dari bentuk rumah Jawanya, dari buku-buku sejarah dan sastra yang ditulisnya…’ (Mencari Sukma Indonesia, hal. 116).
Selain itu dia juga membuat buku yang berjudul "filsafat seni" yang diterbitkan oleh ITB pada tahun 2000. semua tulisan di dalam buku ini berasal dari kumpulan artikel-artikel yang setiap minggu mengisi ruang budaya pada harian pikiran rakyat di bandung. pemikiran yang dituangkan pada buku ini hanya sebagai pengantar untuk menuju filsafat seni, walaupun demikian buku tersebut dapat menjadi sebuah referensi bagi pembacanya.

Analisis
Semua filsuf pelopor tadi mencapai kata sepakat bahwa definisi Filsafat Indonesia adalah ‘segala warisan pemikiran asli yang terdapat dalam adat-istiadat dan kebudayaan semua kelompok etnik Indonesia.’ Jadi, semua produk filosofis sebelum datangnya filsafat asing (TiongkokIndia, Persia, ArabEropa) ke Indonesia, dapat disebut sebagai Filsafat Indonesia. Mereka menekankan ‘keaslian’ bagi Filsafat Indonesia. Padahal, ‘Filsafat asli Indonesia’ hanya ada pada saat masyarakat Indonesia belum kedatangan penduduk asing. Jika Filsafat Indonesia hanya berisi ini saja, maka sungguh betul miskinlah tradisi filsafat kita.
Definisi yang sangat berkekurangan itu kelak mendorong lahirnya definisi baru yang digagas oleh Ferry Hidayat, seorang Dosen Bahasa Inggris di UPN ‘Veteran’ Jakarta, bahwa agar Filsafat Indonesia tidak seperti katak dalam tempurung, kebal terhadap pengaruh intelektual asing dan ‘suci’ dari unsur filosofis asing, maka scope Filsafat Indonesia harus diperluas, bukan hanya mengandung segala warisan pemikiran asli yang terdapat dalam adat-istiadat dan kebudayaan semua kelompok etnik Indonesia, tetapi juga segala pemikiran Indonesia yang terpengaruh oleh antar-koneksi filsafat-filsafat sejagat.
Memang benar, sebagaimana sering ditunjukkan oleh penulis buku Filsafat Islam, Persia, Tiongkok, JepangInggrisJermanAmerika, dan lain-lain, bahwa para filsuf menamai kajian mereka dengan sebutan ‘Filsafat Islam’, ‘Filsafat Tiongkok’, ‘Filsafat Jepang’, ‘Filsafat Jerman’, dst., di samping untuk menegaskan sumbangan komunal dari komunitas tempat mereka berasal terhadap tradisi filsafat sejagat, juga untuk menunjukkan kekhasan, otentisitas, identitas, atau fitur distingtif dari filsafat yang mereka kaji daripada tradisi filsafat lain. Tapi, para filsuf itu tidak berhenti sampai di situ saja. Mereka kemudian juga mengakui, baik secara implisit maupun eksplisit, bahwa tradisi filsafat sejagat juga turut memberi warna-warni dalam struktur filsafat regional mereka.
Walau bagaimanapun, semua pelopor tadi amat berjasa dalam merintis dan memopulerkan kajian yang kelak disebut Filsafat Indonesia itu. Dan untuk mengenang jasa-jasa mereka itulah artikel ini sengaja ditulis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar